Home
»
wawancara
MIKE STERN
Tuesday, August 14, 2012 15:41:17
PETUALANGAN JAZZ YANG SANTAI

Di album “All Over the Place” (Heads Up) yang dirilis sejak 19 Juni 2012 lalu, Mike Stern kembali berkolaborasi dengan banyak musisi dari genre berbeda, seperti yang ia lakukan di tiga album solonya sebelumnya. Bagi salah satu gitaris jazz terbaik dunia asal Amerika Serikat ini - seperti yang ia tuturkan secara eksklusif kepada GitarPlus - menggarap “All Over The Place” sangat menyenangkan dan benar-benar menjadi sebuah petualangan menarik. “Saya telah bereksplorasi dengan banyak musisi hebat yang berbeda-beda. Mereka semua menginspirasi saya untuk terus berkembang dan membuat musik bagus yang bisa dinikmati banyak orang.”
Sejak mundur dari formasi grup rock jazz Blood, Sweat & Tears di paruh era ‘70an, jazz langsung menjadi fokus utama Mike Stern. Genre yang memang menjadi menu utamanya saat menuntut ilmu di Berklee College of Music, Boston. Bertutur-turut ia terlibat di band jazz besutan dramer Billy Cobham dan peniup trumpet jazz legendaris, Miles Davis. Lalu, selama setahun, tepatnya tahun 1983 hingga 1984, Mike memperkuat formasi tur Word of Mouth, band yang dikibarkan bassis extraordinary, Jaco Pastorius. Lantas di bawah naungan label Atlantic Records, Mike merilis album debut solonya yang bertajuk “Upside Downside” (1986) yang antara lain didukung musisi Jaco Pastorius, David Sanborn dan Bob Berg. Selama menjalani karir solonya sebagai gitaris jazz, Mike antara lain tercatat telah berkolaborasi dengan berbagai musisi jazz session papan atas seperti dramer Peter Erskine, Dennis Chambers, kibordis Jim Beard, bassis John Patitucci, Richard Bona hingga virtuoso banjo Bela Fleck. Tahun 2006 dan 2008, Mike sempat pula berkolaborasi dengan grup jazz Yellowjackets dan merilis album “Who Let the Cats Out?” dan “Lifecycle”. Dan kini, lewat “All Over the Place” yang juga dirilis versi lokalnya oleh Universal Music Indonesia, tradisi berkolaborasi itu kembali dilanjutkan. Berikut obrolan Mike dengan GitarPlus seputar proses kreatif rekaman “All Over the Place” yang tentunya lebih difokuskan pada urusan teknis pengisian dan rekaman gitarnya.
Untuk permainan gitar solo, apakah ada persiapan sebelum memulai rekaman? Atau baru dikembangkan setelah berada di studio rekaman?
Ada (proses) pra produksi. Saya selalu mempunyai defenisi dari sebuah ide musik sebelum memulai sesi studio. Semuanya telah tertulis dengan rapi. (Tapi) Bagaimanapun, selalu ada ruang untuk (musisi) lainnya dalam menginterpretasi musiknya.
Untuk urusan mengontruksi permainan solo, menurut Anda, elemen penting apakah yang harus dimiliki seorang gitaris jazz?
Suasananya harus benar-benar sangat santai dan bebas. Saya punya bayangan yang sangat jelas mengenai seperti apa sound yang saya inginkan, tanpa harus mengekang musisi pendukungnya. Saya selalu ingin sisi personal mereka bisa terpancar keluar. Itulah yang menghasilkan musik hebat!
selanjutnya baca majalah Gitarplus edisi 100
« Kembali ke arsip
wawancara
|