NIGHT TO REMEMBER Wednesday, January 06, 2010 15:03:40
RISING STAR
Terkadang ide untuk nama band bisa datang begitu saja. Suatu malam saat sedang berkumpul, Dema (vokal), ArbillSan (gitar), Kandar (gitar), Waski (bas) dan Kiki (dram) mendengar suara-suara aneh yang menakutkan. Malam itu selalu terbenam dalam ingatan mereka dan lantas menjadi inspirasikan untuk nama band mereka, Night To Remember (NTR). Kini, NTR berhasil menjuarai “LA Lights Start Up 2009” dan bersiap meluncurkan album perdananya yang diproduseri oleh Piyu, gitaris Padi.
***
NTR diawali oleh inisiatif sang gitaris, ArbillSan, yang kemudian mengajak Dema untuk membuat lagu-lagu ciptaan sendiri. Untuk melengkapi formasi, keduanya lantas mengajak Kandar, Waski dan Kiki bergabung. “Awalnya band ini cuma side project, masing-masing sudah punya band. Tetapi band yang jalan malah yang ini,” ungkap ArbillSan mengenang masa awal karir NTR.
Setelah resmi terbentuk pada 11 Maret 2009, band asal Jember, Jawa Timur yang semua personelnya selalu mengenakan celana pendek di setiap penampilannya sebagai ciri khas ini giat mengikuti festival musik. Sebagai band daerah, mereka punya cita-cita yang tinggi, ingin dikenal lebih luas dan salah satu caranya adalah dengan mengikuti festival musik. “Selain itu kami juga promo lewat situs Myspace,” ungkap ArbillSan menambahkan.
Hasilnya, mereka berhasil menjuarai “LA Lights Start Up 2009” dan mendapatkan kesempatan untuk merilis album di bawah naungan E-Motion Entertainment. Selama kurang lebih tiga bulan di Jakarta, band beraliran power pop ini menggarap materi di album perdana mereka. Piyu berperan sebagai produser yang mengarahkan mereka untuk mencapai hasil yang maksimal. Konon tadinya ada 15 lagu yang mereka persiapkan, yang lantas disari menjadi delapan lagu. Piyu kemudian meminta mereka untuk membuat tambahan beberapa lagu baru.
Di tengah ingar bingarnya musik bergenre pop melayu yang membanjiri pasar musik Indonesia saat ini, ternyata tidak mengurungkan niat kuartet rocker baru bernama Royal Ego untuk membusungkan dada membawakan konsep musik yang mereka sebut perpaduan alternatif dengan British Pop Rock
Saya sudah berlangganan majalah ini sejak tahun lalu dan sebagai pelanggan saya merasa sangat puas dengan isi dan kualitas majalah ini. Walau sekarang banyak majalah musik yang beredar tetapi saya tetap menjadikan majalah ini sebagai panduan utama saya dalam bermusik. Saya suka dengan rubrik-rubriknya yang informatif, beragam, dan bisa menambah wawasan. Lewat e-mail ini saya ingin memberi beberapa saran untuk kemajuan majalah ini:
Untuk cover, saya rasa terlalu standar. Kalau bisa dibuat lebih berkelas lagi karena salah satu pertimbangan orang untuk membeli majalah salah satunya adalah dari segi cover. Untuk foto di cover akan jauh lebih memuaskan jika hasil jepretan langsung dari redaksi GitarPlus dibanding mengunduh dari internet.
Bisa dibilang, dari sekian banyak model gitar elektrik yang ada di jajaran Yamaha, model Pacifica lumayan banyak diminati oleh para penikmat instrumen gitar. Beberapa tipe telah diturunkan dengan menampilkan kualitasn jempolan, di antaranya seri 112XJ, 1511MS, 112J, serta 112V. Kini, salah satu seri terbarunya, yakni Pasifica 212 telah diluncurkan dengan dua pilihan, yakni Pacifica 212VFM (flamed maple) serta Pacifica 212VQM (quilted maple).