Di tengah ingar bingarnya musik bergenre pop melayu yang membanjiri pasar musik Indonesia saat ini, ternyata tidak mengurungkan niat kuartet rocker baru bernama Royal Ego untuk membusungkan dada membawakan konsep musik yang mereka sebut perpaduan alternatif dengan British Pop Rock
Untuk merayakan 25 tahun perjalanan karirnya, Helloween merilis sebuah album berisi daur ulang lagu-lagu terbaik mereka berjudul ‘Unarmed - Best Of 25th Anniversary’. Ini sebuah album nekad, karena format aransemennya dibuat semi akustik dan orkestra, menjauh dari power/speed metal, genre yang selama ini melekat kuat pada sosok salah satu band cadas kebanggaan Jerman ini.
Aria Baron Suprayogi atau yang lebih akrab disapa Baron kini sedang sangat bergairah. Sebentar lagi, album kedua bandnya, Soulmates berjudul ‘The Winner’ yang didukung formasi baru bakal rilis. Tapi yang membuatnya lebih semangat lagi adalah barisan equipment terbarunya, di mana ia secara resmi kini menjadi pengguna Suhr, produk gitar, ampli dan efek berkualitas tinggi asal Amerika Serikat.
“Untuk album ketiga, kami masih akan memasukkan lagu yang kenceng disamping lagu-lagu balada,” ungkap Cella, gitaris Kotak, menjanjikan. Konon, formatnya akan tetap mengacu album ‘Kedua’, tapi akan ada pengembangan di sound.
Terkadang ide untuk nama band bisa datang begitu saja. Suatu malam saat sedang berkumpul, Dema (vokal), ArbillSan (gitar), Kandar (gitar), Waski (bas) dan Kiki (dram) mendengar suara-suara aneh yang menakutkan. Malam itu selalu terbenam dalam ingatan mereka dan lantas menjadi inspirasikan untuk nama band mereka, Night To Remember (NTR). Kini, NTR berhasil menjuarai “LA Lights Start Up 2009” dan bersiap meluncurkan album perdananya yang diproduseri oleh Piyu, gitaris Padi.
“Gue lebih suka punya band,” ucap Andre Harihandoyo, gitaris yang kini mengibarkan band Andre Harihandoyo & Sonic People, dimana ia mulai yakin melepaskan embel-embel sebagai gitaris solo. Bahkan lewat album terbarunya, ‘Good For The Soul’, konsep musik garapannya pun telah bergeser dari blues yang impresif ke arah folk yang bercorak akustik.
Di salah satu halaman Guitar Player edisi Juli 2009, sebuah majalah gitar terkemuka terbitan Amerika Serikat (AS), terpampang artikel yang lumayan memuji kualitas album ‘Demi Masa’ milik simakDialog. Ya, benar! simakDialog adalah salah satu band jazz kebanggaan Tanah Air yang antara lain diperkuat pianis/kibordis Riza Arshad dan gitaris Tohpati Ario Hutomo.
Sebuah band baru asal Yogyakarta, Thirteen Fighting (13F) baru saja meluncurkan album perdana bertajuk ‘Presiden Ego’ (MI2 Productions). Mereka melebur pengaruh rock dari band-band seperti Bon Jovi, Motley Crue, Pantera hingga Avenged Sevenfold dan Bullet For My Valentine. Sebuah konsep untuk mengalihkan kejemuan akan dominasi band-band pop melayu.
Dua tahun setelah merilis rangkuman lagu-lagu terbaiknya di album ‘The Singles: 1996-2006’, Staind kembali menyapa para penggemarnya lewat karya segar berjudul ‘The Illusion Of Progress’ (Atlantic/Warner), dirilis 19 Agustus 2008 lalu. Ini merupakan karya rekaman studio kelima band asal Springfield, Massachusetts (AS) yang masih dihuni oleh Aaron Lewis (vokal/gitar), Mike Mushok (gitar), Johnny April (bas) dan Jon Wysocki (dram).
Di tengah ingar bingarnya musik bergenre pop melayu yang membanjiri pasar musik Indonesia saat ini, ternyata tidak mengurungkan niat kuartet rocker baru bernama Royal Ego untuk membusungkan dada membawakan konsep musik yang mereka sebut perpaduan alternatif dengan British Pop Rock
Saya sudah berlangganan majalah ini sejak tahun lalu dan sebagai pelanggan saya merasa sangat puas dengan isi dan kualitas majalah ini. Walau sekarang banyak majalah musik yang beredar tetapi saya tetap menjadikan majalah ini sebagai panduan utama saya dalam bermusik. Saya suka dengan rubrik-rubriknya yang informatif, beragam, dan bisa menambah wawasan. Lewat e-mail ini saya ingin memberi beberapa saran untuk kemajuan majalah ini:
Untuk cover, saya rasa terlalu standar. Kalau bisa dibuat lebih berkelas lagi karena salah satu pertimbangan orang untuk membeli majalah salah satunya adalah dari segi cover. Untuk foto di cover akan jauh lebih memuaskan jika hasil jepretan langsung dari redaksi GitarPlus dibanding mengunduh dari internet.
Bisa dibilang, dari sekian banyak model gitar elektrik yang ada di jajaran Yamaha, model Pacifica lumayan banyak diminati oleh para penikmat instrumen gitar. Beberapa tipe telah diturunkan dengan menampilkan kualitasn jempolan, di antaranya seri 112XJ, 1511MS, 112J, serta 112V. Kini, salah satu seri terbarunya, yakni Pasifica 212 telah diluncurkan dengan dua pilihan, yakni Pacifica 212VFM (flamed maple) serta Pacifica 212VQM (quilted maple).